FUNGSI DAN PENTINGNYA AUDIOMETRI DAN SPIROMETRI

Di lingkungan kerja, terutama di sektor industri, manufaktur, dan pertambangan, karyawan seringkali terpapar pada risiko bahaya fisik yang dapat memengaruhi fungsi organ vital secara permanen. Dua pemeriksaan kesehatan kerja yang paling mendasar dan krusial untuk mendeteksi dampak bahaya lingkungan kerja adalah Audiometri dan Spirometri. Pemeriksaan ini bukan sekadar formalitas Medical Check Up (MCU) tahunan, tetapi merupakan alat diagnostik dini yang efektif untuk memetakan dan mencegah Penyakit Akibat Kerja (PAK).
Audiometri fokus pada fungsi pendengaran, mengidentifikasi potensi Gangguan Pendengaran Akibat Kebisingan (Noise-Induced Hearing Loss/NIHL), sementara Spirometri fokus pada fungsi paru-paru, mendeteksi gangguan pernapasan seperti asma kerja atau silikosis.
Bagi kita, baik sebagai profesional K3, Manajer SDM, atau pekerja itu sendiri, memahami mengapa kedua tes ini penting dan bagaimana hasilnya harus diinterpretasikan adalah kunci untuk melindungi hak kesehatan pekerja, mematuhi regulasi K3 yang berlaku, dan menghindari klaim kompensasi yang mahal di masa depan. Mari kita telaah masing-masing pemeriksaan dan mengapa keduanya sering dilakukan berbarengan.
Fungsi Audiometri: Mempertahankan Indera Pendengaran
Audiometri adalah pemeriksaan standar yang mengukur sensitivitas pendengaran seseorang terhadap berbagai frekuensi suara. Pemeriksaan ini sangat penting bagi pekerja yang terpapar tingkat kebisingan di atas batas aman (biasanya di atas 85 dB).
-
Tujuan Utama Audiometri (Primary Goal of Audiometry): Pemeriksaan ini dilakukan untuk menetapkan ambang batas pendengaran seseorang (Hearing Threshold Level/HTL) di berbagai frekuensi (terutama 500 Hz, 1000 Hz, 2000 Hz, 3000 Hz, 4000 Hz, dan 6000 Hz). Tujuan utama dari pemeriksaan rutin ini meliputi:
-
Penetapan Baseline Awal: Tes pertama (saat rekrutmen atau sebelum penugasan) menetapkan tingkat pendengaran awal pekerja sebagai acuan dasar.
-
Deteksi Pergeseran Ambang Batas Dini (Threshold Shift): Membandingkan hasil tes rutin dengan baseline untuk mendeteksi adanya penurunan pendengaran, baik yang sementara (Temporary Threshold Shift/TTS) maupun yang permanen (Permanent Threshold Shift/PTS).
-
Pencegahan NIHL: Jika terdeteksi pergeseran ambang batas dini, perusahaan dapat segera melakukan intervensi (misalnya, perbaikan pengendalian kebisingan, penggunaan Alat Pelindung Diri/APD pendengaran yang lebih baik, atau rotasi kerja) sebelum penurunan menjadi permanen.
-
-
Prosedur Ringkas Pemeriksaan: Pemeriksaan dilakukan di dalam ruangan kedap suara (audiometric booth) untuk menghilangkan kebisingan latar. Peserta akan diminta untuk memberikan respons (biasanya menekan tombol) setiap kali mendengar bunyi nada murni melalui headphone. Hasilnya direkam dalam bentuk Audiogram, sebuah grafik yang menunjukkan tingkat pendengaran pada berbagai frekuensi.
Fungsi Spirometri: Mengukur Kapasitas Paru-Paru
Spirometri adalah pemeriksaan fungsi paru-paru yang mengukur volume udara yang dapat dihirup dan diembuskan oleh seseorang, serta seberapa cepat udara tersebut dapat diembuskan. Pemeriksaan ini penting bagi pekerja yang terpapar debu, asap, gas, atau bahan kimia berbahaya.
-
Tujuan Utama Spirometri (Primary Goal of Spirometry): Pemeriksaan ini mengukur parameter kunci seperti Volume Ekspirasi Paksa dalam 1 Detik (Forced Expiratory Volume in 1 second/FEV1) dan Kapasitas Vital Paksa (Forced Vital Capacity/FVC). Tujuan utama dari pemeriksaan rutin ini meliputi:
-
Identifikasi Penyakit Paru Obstruktif: Mendeteksi kondisi yang ditandai dengan hambatan aliran udara (misalnya, asma kerja atau Chronic Obstructive Pulmonary Disease/COPD). Hasilnya ditandai dengan rasio FEV1/FVC yang rendah.
-
Identifikasi Penyakit Paru Restriktif: Mendeteksi kondisi di mana kapasitas paru-paru berkurang (misalnya, Silikosis atau Asbestosis). Hasilnya ditandai dengan penurunan FVC tanpa penurunan signifikan pada rasio FEV1/FVC.
-
Pemantauan Kesehatan: Seperti Audiometri, pemeriksaan Spirometri rutin memantau tren fungsi paru-paru pekerja dari waktu ke waktu, memungkinkan intervensi pengendalian risiko lingkungan kerja sebelum kerusakan paru-paru menjadi parah.
-
-
Prosedur Ringkas Pemeriksaan: Peserta akan diminta untuk menarik napas sedalam-dalamnya dan mengembuskannya secepat dan sekuat mungkin ke dalam alat yang disebut Spirometer. Kualitas dan konsistensi hembusan adalah kunci, dan tes biasanya diulang beberapa kali untuk mendapatkan hasil yang valid.
Sinergi Pencegahan Kesehatan Kerja
Baik Audiometri maupun Spirometri adalah bagian integral dari program K3 yang proaktif. Kerusakan pendengaran dan paru-paru bersifat ireversibel (tidak dapat pulih). Oleh karena itu, investasi perusahaan dalam pemeriksaan rutin ini adalah bentuk tanggung jawab etis dan kewajiban hukum untuk melindungi aset terpentingnya: sumber daya manusia.
Kembangkan Kompetensi K3 dan Interpretasi Medis Anda
Menguasai teknik penyusunan Standard Operating Procedure (SOP) pelaksanaan fit test untuk APD pernapasan (masker), memahami cara efektif menyusun Standard Operating Procedure (SOP) kalibrasi alat Audiometer dan Spirometer, serta mengembangkan skill problem solving yang melibatkan masalah menganalisis Temporary Threshold Shift (TTS) yang berkepanjangan pada pekerja dan mengelola risiko paparan debu silika membutuhkan program pengembangan yang terstruktur dan aplikatif. Jika ingin mendalami cara meningkatkan strategi interpretasi hasil audiogram dan spirometri yang kompleks, menguasai skill perencanaan program konservasi pendengaran di tempat kerja, atau membangun fondasi mindset yang mendukung kinerja optimal di lingkungan K3 industri dan manajemen Medical Check Up (MCU), Anda memerlukan program pengembangan yang terstruktur.
Banyak profesional yang menyediakan panduan mendalam untuk mengoptimalkan diri dan meningkatkan nilai tambah teknis. Untuk informasi lebih lanjut mengenai program pengembangan di bidang audiometri, spirometri, dan Manajemen Kesehatan Kerja (Occupational Health) yang relevan dengan kebutuhan karir saat ini, silakan hubungi 085166437761 (SAKA) atau 082133272164 (ISTI).

